💜💜💜💜💜
bagaikan noktah sedih penyudah cetera
tanda tamat pada segala kembara makna
rintih sang sasterawan kedengaran haru
selama menanti pengertian mudah daripada semua
diambang usia senja
saat senang terasa jauh bisa didakap
walau nama, gelaran serta bintang
tersusun terpelihara dia tetap gelisah
pada karenah tembok tebal dewan yang bermuka-muka
mungkin warga kota dan insan buana
tersentak simpati nasib perit perjuangan pujangga
atau ada berpaling malu untuk menerima
juga sesetengah masih langsung keliru lagi tidak peduli
akan dilema antara harga hasil karya dan hak diri
meski rajuk diselindung erat disimpan rapi
akhirnya tewas lalu limpah laju mengalir
dari diam waras bertukar berang keras
harapan terus menjadi laung amarah
(begitu lantang suara itu hari ini)
kini baru kami kenal
apa erti deritanya, apa erti bicaranya
panjang dengan kisah-kisah
luka dan berliku.
barangkali dalam hati
dengan nada kecewa dia isytihar :
“pena ini telah henti. Semangat kelmarin
sudah mati. Saya bosan menunggu dan dilayan sebegini.”
maka gemalah kalimat berani itu
setelah nekad serta putus arah
setelah semangat dibunuh gelagat birokrasi
maka dengan perlahan “hilang bintang di langit zaman”
sebelum kian terpadam dan dilupakan !
Istimewa buatmu ,
Sarjan Abdul Manap bin Alias. 💗



No comments:
Post a Comment